Beberapa prediksi tren marketing tahun ini menyatakan bahwa influencer atau selebriti di sosial media menjadi pilihan yang tepat. Namun, tren influencer dengan sekian followers akan tergantikan dengan adanya nano influencers – di mana jumlah followers sang influencer adalah 100 hingga 10ribu.

 

Pemikiran ini tidak disetujui oleh Chris Morfis. Sang general manager sebuah digital marketing asal Australia, Hypetap ini menganggap nano influencers kurang sepadan dengan hasilnya. Waduh, bagaimana itu?

 

Memang pemasaran dengan menggunakan para influencer menjadi favorit para perusahaan. Tak hanya tidak terlalu membutuhkan biaya yang banyak, mereka juga memberikan engagement yang tinggi. Namun, sebenarnya dibalik post Instagram yang indah, nano influencer tidak bisa membuat orang-orang terpengaruh untuk membeli.

 

Inilah beberapa alasan mengapa nano-influencers kurang sepadan untuk dijadikan taktik promosi.

 

Nano influencers murah, namun…

Nano-influencers biasa dibilang adalah “paket mini” : murah, sedikit, namun memiliki efek yang besar karena terus engage pada followers mereka. Namun, di sinilah masalahnya. Instagram konten memiliki reach hingga 8-15% followers, untuk para influencer dengan jumlah pengikut 1000. Jadi, Anda akan mendapatkan setidaknya reach sebanyak 150 orang. Nano influencers biasanya berasal dari teman ataupun keluarga dan engage dengan mereka.

 

Anda juga perlu melihat akun-akun standar Instagram daripada akun bisnis. Jadi, Anda harus melihat ukuran suka dan komentar untuk mengukur kesuksesan promosi Anda. Namun, informasi ini tidak memberikan insight yang sangat diperlukan oleh perusahaan Anda. Anda perlu menanyakan lagi : apakah perlu untuk investasi waktu dan sumber untuk promosi ini?

 

Resiko tinggi namun sedikit keuntungan

Ketika Anda bekerja dengan influencer makro, level ini sudah berada di level kolaborasi antara dua pihak. Para influencer ini memberikan saran bagaimana untuk mengiklankan produk Anda berdasarkan gaya para influencer ini dan para perusahaan akan memberikan rekomendasi yang sama tentang promosi ini. Nah, ketika bekerja dengan nano-influencer, konsep ini tidak berlaku.

 

Ketika bekerja dengan nano influencer, Anda hanya perlu mengirimkan produk Anda ke influencer ini, sudah. Proses ini hanya berhenti disitu. Sebagai perusahaan, Anda tidak bisa mengulas post yang akan dibuat ataupun membuat saran.

Lebih menguntungkan dengan kerjasama yang mutual, bukan? Jadi, tidak ada kesalahan informasi tentang representasi yang salah dan lainnya untuk menunjukkan produk Anda.

 

Kembali ke Konvensional

Pikirkan tentang bagaimana pengaruh berlaku di dunia nyata. Mereka yang membuat tren di mana orang-orang turut serta, para “tastemakers”. Mereka yang mengikuti tren akan mengangkat tren tersebut dan turut serta. Namun, para nano-influencers hanya memberikan bukti sosial bahwa tren hanya digaungkan saja, orang-orang malah tidak ikut serta. Mereka mungkin akan memberikan komunikasi dalam post tersebut, tapi tidak akan turut serta dalam tren tersebut.

 

Perusahaan yang kecil dengan budget terbatas biasanya melakukan ini untuk uji coba. Namun biasanya, nano-influencer hanya sebatas pengikut tren, bukan trendsetter. Memang marketing menggunakan influencer sangatlah memberikan efek dengan kenaikan sekitar 5%, namun hanya bisa membuahkan hasil jika bekerja dengan influencer yang tepat.

 

Agar menemukan influencer yang tepat, konsultan digital marketing berperan besar dalam memberikan saran marketing yang pas.