Dalam sesi panel MarkPlus Conference 2019 di bulan Desember lalu, Erika Oktora dari Google Indonesia memaparkan bahwa pergerakan ekonomi masih didominasi oleh para ritel offline. Seperti Amerika Serikat, penjualan ritel masih mencapai 90% offline walaupun tercatat pelaku e-commerce besar banyak bernaung di sana, termasuk Amazon.

 

Ini disebabkan karena konsumen yang sangat demanding, konsumen semakin tak sabar untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Maka itu, perusahaan harus sangat tanggap dan menjawab mereka baik secara offline maupun online.

 

Di sisi lain, walaupun pencarian sudah online, pembelian pun masih banyak yang offline. Namun, potensi e-commerce Indonesia masih besar hingga mencapai niai total sebesar Rp 8 triliun tahun 2017 dan akan meningkat lagi hingga USD 55-65 miliar pada tahun 2022, menurut McKinsey.

 

Lantas, bagaimana kabar ritel offline jika kanal online meningkat?

 

Konsumen masih saja memanfaatkan kanal online. Menurut Erika, konsumen akan menggunakan omnichannel, yakni sebuah model bisnis lintas kanal dari offline hingga online. Terdapat sebuah tahapan untuk meningkatkan penjualan di toko ritel offline, lalu meningkatkan penjualan toko online, lalu keduanya diintegrasikan menjadi omnichannel.

 

Yang terpenting, menurut Erika, adalah edukasi konsumen. Promosi melalui kanal online sangatlah penting. Giant, ritel asal Malaysia, mendorong belanja offline dengan TruView YouTube. Penjualan ritel Giant meningkat hingga 20%, brand awareness di Internet meningkat hingga 18%, dan engagement pun juga meningkat hingga 4,5 kali berkat strategi promosi ini. Menarik, bukan? Tak sedikit pemasar yang melakukan omnichannel dalam bisnisnya.

 

Omnichannel sangatlah penting. Maka dari itu, ritel offline atau fisik pun tidaklah mati. Bagaimana tidak? Konsumen Indonesia sangat terkoneksi dengan Internet. Terdapat 130 juta orang Indonesia yang menggunakan internet dan mereka menggunakan internet setiap harinya. Internet menjadi keseharian masyarakat Indonesia.

 

Dalam pengaplikasian Omnichannel, terdapat strategi dan tahap-tahap tertentu. Pengaplikasian omnichannel ini tidak boleh sembarangan dilakukan. Maka dari itu, peran konsultan digital marketing masih sangat dibutuhkan agar “bermain” dalam omnichannel pun lebih tertata. Tak hanya langkah-langkah omnichannel, mereka juga membantu agar perusahaan menjadi lebih dekat dengan konsumen.