Setelah Indonesia menjadi tempat persinggahan unicorn startup, termasuk e-commerce; pengguna e-commerce di Indonesia makin meningkat. Terlebih, Tokopedia dan BukaLapak tercatat sebagai startup dengan valuasi lebih dari US$ 1 miliar di Asia.

Tren Konsumen Indonesia

Dengan maraknya e-commerce, tren konsumen juga berubah. Karena kemudahan dan kemajuan teknologi, mereka kini tak lagi menggunakan PC ataupun laptop. Dengan berbekal smartphone sebagai perangkat utama, konsumen mampu mengakses dan membeli lewat e-commerce. Menurut studi oleh Frost&Sullivan tentang peningkatan tren konsumen, di Asia Tenggara sendiri, terdapat pertumbuhan hingga 28.5%. Kebanyakan pengguna memilih menggunakan aplikasi smartphone untuk mengakses e-commerce.

Bahkan, terdapat fitur-fitur dalam e-commerce untuk menciptakan aktivitas selain pembelian agar meningkatkan trafik e-commerce tersebut. Contohnya, Shopee menciptakan Shopee Shake atau Goyang Shopee, dimana para pengguna harus menggoyangkan smartphone mereka secepat mungkin. Kini telah ada lebih dari 100.000 pengguna telah berpartisipasi, tepat setelah beberapa hari dari hari peluncurannya. Tak hanya itu, Lazada memiliki fitur Slash It, dimana para pengguna harus mengajak teman lebih banyak untuk mendapatkan potongan harga lebih banyak.

Country Head of Shopback Indonesia, Indra Yonathan, memaparkan bahwa dari data transaksi Shopback, aplikasi ponsel memberikan ¾ volume pemesanan secara online – yang berarti, aplikasi ponsel terbukti meningkatkan volume pemesanan secara online. Terlebih, Indonesia merupakan negara kedua dari lima negara di database Shopback yang memilih melakukan pembelian melalui aplikasi smartphone, setelah Thailand.

Perubahan Customer Journey di Pasar Indonesia

Namun, menurut Irfan Setiawan dalam Associate of High Tech, Property and Consumer Industry; perubahan pasar Indonesia telah mengalami perubahan customer journey yang harus menjadi “pekerjaan rumah” yang penting bagi para penggerak e-commerce. Terdapat pola konsep 5A (Aware, Appeal, Ask, Act, and Advocate). Sebelum internet muncul di Indonesia, kekuatan brand diukur dari awareness. Namun, kini, dengan adanya teknologi dan angka penetrasi internet, para pemain e-commerce harus menghadapi tahap “Advocacy” dimana para pelanggan tak hanya membeli kembali, namun juga merekomendasikan pada pihak lain. Agar Advocacy ini terjadi, terdapat strategi yang bisa dilakukan; salah satunya adalah dengan menggandeng jasa konsultan digital marketing yang mampu dipercaya.