Peran Tiktok dalam Pemasaran Bisnis

Perkembangan teknologi dan komunikasi  akan sangat sulit dihindari di masa ini. Hampir seluruh aspek hidup manusia dilakukan secara digital karena lebih mudah dan praktis dibandingkan dengan cara lama. Bidang bisnis menjadi salah satu bidang yang juga mengalami perubahan.  Sadar atau tidak, pemasaran bisnis secara digital kini makin meningkat. Yup, sosial media menjadi  hal yang digandrungi oleh generasi muda.

Mungkin banyak orang akan memilih Instagram, Facebook, Twitter atau plafform lain dalam memasarkan bisnis mereka. Namun, dua tahun terakhir ini terdapat aplikasi yang cukup digandrungi oleh Generasi  Z dalam mengekspresikan ide mereka. Aplikasi ini adalah Tiktok.

Ada apa dengan Tiktok? Iya, Anda tidak salah membaca.  Mungkin Anda hanya berpikir bahwa aplikasi ini hanyalah aplikasi lipsync saja. Akan tetapi, aplikasi ini menjadi wadah bagi para penggunanya untuk menunjukkan sisi kreatif mereka dalam bentuk video, musik, atau foto dalam kurun waktu 15-16 detik. Tiktok juga menyediakan beragam fitur seperti efek khusus, klip music, duet serta pilhan musik latar.

Dilansir dari Bussines Insider,Tiktok diluncurkan oleh Bytedance pada bulan September 2016. Tiktok juga disebut-sebut mengungguli aplikasi WeChat sejak peluncurannya. Hingga di tahun 2018, aplikasi ini sudah mulai digunakan oleh berbagai negara di dunia.

Berdasarkan Sensor Tower Analytics, Tiktok berhasil mengungguli Facebook dan Instagram pada 2019 lalu dan berhasil diunduh sekitar 700 juta pengguna yang mana penggunannya merupakan remaja muda atau sering kita sebut Generasi Z.

Menariknya, TikTok merupakan aplikasi Android yang paling banyak diunduh di Amerika Serikat dengan total unduhan sebanyak 9,14 juta. Aplikasi ini berhasil mengalahkan Instagram yang diunduh sebanyak 2,47 juta kali. Oleh karena itu, tak heran perusahaan Amerika Serikat, Walmart membuat akun TikTok untuk memasarkan bisnis mereka.

Walmart tak melulu mempromosikan barang yang mereka jual, tapi juga mengikuti challenge yang trend di kalangan anak muda AS karena bagaimanapun usia konsumtif biasanya berada pada 16-24 tahun yang mana presentase itu cukup besar  yakni sekitar 41%.

Namun, bagaimana dengan pemasaran TikTok di Indonesia?

Walau sempat diblokir pada 3 Juli 2018 di Indonesia dan dibuka kembali beberapa hari setelahnya dengan adanya peraturan terbaru, Tiktok nyatanya masih menarik banyak perhatian pengguna Indonesia. Sama halnya dengan pengguna negara lain, rata-rata pengguna TikTok di Indonesia adalah remaja. Akan tetapi, pemasaran melalui aplikasi TikTok masih belum banyak. Rata-rata para pemilik usaha akan menggandeng para influencer  untuk mempromosikan produk mereka. Bagaimana dengan Anda?  Tertarik mencoba? Jika masih merasa bingung tentang bagaimana meningkatkan penjual melalui beragam platform jualan online, ada baiknya berkonsultasi dengan konsultan digital marketinguntuk langkah promosi penjualan.

Podcast Geser Radio : Seru, Tidak Membosankan dan Informatif

podcast lebih dipilih

Sebuah riset yang telah kami lakukan terhadap koresponden berumur 18-24 tahun, podcast lebih dipilih daripada radio. Milenial memilih Podcast (88%) daripada Radio (25%). Apalagi dengan kehadiran streaming on-demand seperti Inspigo, Spotify (88%), maupun Soundcloud (12%), Podcast menjadi lebih favorit. Media yang digunakan pun tak hanya streaming on-demand tersebut, namun mereka juga menggunakan web player dari beberapa portal media yang menyediakan podcast.

 

Mengapa saat ini podcast lebih dipilih daripada radio? Berikut adalah alasan mengapa banyak orang memilih podcast daripada radio. Alasan ini bisa jadi pertimbangan mengapa podcast advertising pun mulai diminati beberapa perusahaan.

 

Podcast lebih dipilih daripada radio, berikut alasannya!

 

1. Karena podcast dapat dibawa kemana saja dan bisa dijadikan untuk “multitasking”

Sebuah riset yang dilakukan oleh Interactive Advertising Bureau di tahun 2016, para pendengar podcast ini memilih mendengarkan podcast karena penting untuk mendengarkan audio kapan saja dan dimana saja. Mereka memilih podcast karena tinggal one click away dan bisa memilih-milih rilis podcast mana saja. Semisal, mereka bisa mendengarkan podcast tahun lalu hingga beberapa tahun yang lalu.

 

Tak hanya itu, mereka bisa mendengarkan seraya melakukan aktivitas mereka yang lainnya. Dalam survei The Infinite Dial 2017, banyak yang mendengarkan podcast seraya perjalanan ke rumah, ketika sedang berkendara, ataupun sedang melakukan pekerjaan rumah seperti memasak, bersih-bersih, ataupun relaksasi. Podcast tidak terlalu membutuhkan fokus yang penuh karena takut ketinggalan informasi, podcast lebih dipilih daripada radio.

 

2. Karena kita akan merasa lebih dekat dengan penyiar lewat suara

Sama halnya dengan radio, pendengar merasa lebih dekat dengan penyiar podcast. Beberapa pakar dalam industri ini percaya bahwa terdapat “efek keakraban” dalam audio. Podcast akan membuat para pendengar merasa lebih akrab daripada video ataupun radio. Podcast lebih dipilih daripada radio karena podcast telah dibuat sedemikian rupa sesuai dengan kesukaan para pendengar, seperti diskusi panel, talk show, storytelling, percakapan antar satu grup, dan sebagainya yang membuat para pendengar merasa podcast tersebut dibuat untuk mereka.

 

Semisal, dua orang penyiar dalam sebuah podcast ini sangat-sangat akrab dan para pendengar suka dengan chemistry mereka. Para pendengar merasa bahwa mereka tengah hadir diantara percakapan dua sahabat ini.

 

3. Karena pendengar merasa mendapatkan konten yang ekslusif dan tidak dapat ditemukan dimana-mana

Karena keekslusifan podcast dari iTunes, SoundCloud, Google Play, YouTube, Spotify, dan kini, Inspigo, mereka yakin bahwa konten dari beberapa platform ini berbeda-beda. Tak hanya itu, kini perusahaan-perusahaan besar seperti New York Times serta The Washington Post juga mulai merambat ke podcast.

 

Sebuah riset Edison/Knight Foundation menunjukkan bahwa para pendengar Podcast ini senang mendengarkan podcast pendek namun dengan pengetahuan yang dalam (41%). Namun, mereka juga suka mendengar podcast yang panjang, asalkan pengetahuan yang diberikan sangat berguna dan dalam.

 

Selain itu, ini juga alasan lain mengapa podcast lebih dipilih

 

Seperti Inspirasi Pagi menghadirkan sebuah podcast yang menawarkan perspektif baru, lebih up to date, dinamis, dan cerdas. Konten yang ditawarkan pun bermacam-macam, dari hiburan, digital marketing, hukum, dan sebagainya.

 

Singkat kata, para pengguna Internet kini dihiasi oleh pengguna podcast. Pengguna podcast ini lebih memilih daripada radio karena in-depth, kreatif, cerdas, dan unik. Namun, dalam membuat suatu podcast, diperlukan juga peran konsultan digital marketing agar mencapai target pendengar yang dibutuhkan dalam podcast advertising.

Millennials : Hidup dalam Pekerjaan, bukan Hidup untuk Bekerja

millennials berkarya

Millennials, sebutan untuk mereka yang lahir di era tengah 1990an hingga awal 2000an, lekat dengan segala stereotip buruknya seperti acuh tak acuh, boros, dan sebagainya. Namun, itu semua tak sepenuhnya benar. Pada hari Jumat, 23 November 2018, para millenials dalam acara “Festival Millennials Berkarya” menunjukkan bahwa para millennials ini hidup dalam pekerjaan mereka. Bukannya hidup untuk bekerja, duduk dalam cubicle mereka, melakukan rutinitas 9 to 5 yang membosankan.

millennials berkarya
Sambutan dari pihak Semen Indonesia

Semen Indonesia Total Solution, mengadakan acara “Festival Millennials Berkarya” ini diadakan di Wisma Achmad Yani, Gresik. Acara dimeriahkan oleh serangkaian acara seperti photobooth, culinary, community booth, workshops, serta panggung musik. Panggung musik ini juga dimeriahkan oleh Pusakata, musisi Indie ternama tanah air.

Workshopnya pun tak kalah seru. Dengan mengusung tema “living life with a purpose”, para pembicara ini berbagi pengalaman dan pengetahuan seputar life design mereka; yakni hidup dengan tujuan mereka. Pembicara dari workshop ini adalah Kevin Hendrawan, seorang TV Host & YouTuber; Fico Fachriza, seorang Komika atau stand up comedian; serta Vikra Ijaz, co-founder dari situs donasi dan penggalangan dana bernama “kitabisa.com”.

millennials berkarya
Vikra Ijaz menyampaikan materi saat sesi Big Stage

Ketiga pembicara dari workshop tersebut menunjukkan bahwa dengan maraknya dunia digital, mau tak mau, para millennials ini harus mengikuti kemajuan dunia digital dengan membuat sesuatu yang berguna dan memudahkan orang-orang. Kini tak lagi untuk menunggu panggilan hidup, namun kitalah yang harus membuat panggilan hidup tersebut.